Universitas Banda Naira (UBN) mendorong pengembangan wisata bahari berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan, kebudayaan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Gagasan tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik UBN, Dr. Aditya Putra Basir, S.Pi., M.P., dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional melalui seminar bertema Marine Tourism Ecotheology.
Kegiatan yang diselenggarakan Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji (UIN Ambon) tersebut berkolaborasi dengan Universiti Sains Malaysia (USM), Politeknik Pariwisata Makassar, UIN Alauddin Makassar, dan Universitas Banda Naira (UBN).
Seminar yang dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) itu berlangsung di Gedung O.K. Makatita, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (30/10).
Dalam sambutannya mewakili Rektor UBN, Aditya menegaskan bahwa laut tidak semestinya hanya dipandang sebagai objek wisata maupun sumber ekonomi. Lebih dari itu, laut merupakan ruang kehidupan, kebudayaan, spiritualitas, serta warisan ekologis yang keberlangsungannya harus dijaga.

Menurutnya, konsep ekoteologi menempatkan hubungan manusia dengan alam dalam kerangka tanggung jawab moral dan spiritual. Alam merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki nilai dan makna sehingga pemanfaatan sumber daya alam harus berjalan seiring dengan upaya pelestarian.
“Laut tidak hanya kita pandang sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai ruang kehidupan yang harus dihormati dan dilestarikan,” ungkapnya.
Lulusan Program Doktor Manajemen Sumber Daya Perairan (MSDP) Universitas Diponegoro (Undip) dengan predikat cum laude itu juga mengingatkan bahwa peningkatan jumlah kunjungan wisatawan tidak dapat menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan pembangunan pariwisata bahari.
Pengelolaannya harus memperhatikan daya dukung lingkungan, pelestarian budaya, kearifan lokal, serta pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Banda Berpotensi Menjadi Laboratorium Alam dan Sosial
Aditya menilai Kepulauan Banda memiliki potensi besar untuk menjadi laboratorium alam dan sosial dalam pengembangan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Potensi tersebut tidak hanya bersumber dari keindahan laut, tetapi juga kekayaan sejarah, tradisi, pengetahuan lokal, dan nilai budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.

UBN, kata dia, berkomitmen mengintegrasikan berbagai potensi tersebut dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi harus hadir di tengah masyarakat agar kegiatan akademik tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.
Selain potensi pariwisata, Dosen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan UBN itu turut menyoroti berbagai persoalan lingkungan, seperti kerusakan ekosistem laut, sampah plastik, eksploitasi sumber daya alam, dan degradasi lingkungan.
Berbagai persoalan tersebut membutuhkan pendekatan lintas disiplin serta keterlibatan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, tokoh agama, hingga pelaku pariwisata.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, UBN dan UIN Ambon juga menandatangani MoU sebagai langkah memperkuat kerja sama ant perguruan tinggi.
Kolaborasi itu diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan berbagai inovasi.

Aditya kembali menegaskan bahwa pengelolaan wisata bahari harus menempatkan kelestarian lingkungan sebagai fondasi, masyarakat sebagai subjek pembangunan, budaya sebagai identitas, dan nilai spiritual sebagai landasan moral.
Dengan prinsip tersebut, masyarakat lokal tidak cukup hanya dilibatkan sebagai pendukung kegiatan pariwisata. Mereka harus menjadi pelaku utama sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari pengembangan potensi daerahnya.
Ia berharap seminar internasional tersebut dapat menghasilkan gagasan dan rekomendasi yang bisa diterapkan melalui program konkret di tengah masyarakat.
Menurutnya, Banda memiliki peluang besar menjadi contoh pengembangan pariwisata yang berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan, kebudayaan, dan nilai keagamaan.
“Pulau-pulau kecil bukan wilayah yang berada di pinggiran pembangunan. Pulau-pulau kecil justru merupakan pilar kehidupan, pusat kebudayaan, pusat pengetahuan, dan bagian penting dari masa depan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya. (Kasman)
















