Kualitas udara di Kota Ambon, Maluku, memburuk dalam sepekan terakhir. Kondisi ini dipengaruhi asap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di tengah kemarau panjang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon, Apriez B. Gaspers, mengatakan kualitas udara saat ini cukup memprihatinkan dan berisiko terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
“Kualitas udara di Kota Ambon akibat dari kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kondisi kualitas udara di Kota Ambon sangat memprihatinkan, tidak baik untuk kesehatan terutama untuk kelompok-kelompok rentan, seperti ibu hamil, lansia, anak-anak dan sebagainya,” kata Apriez di ruang kerjanya, Rabu (7/10).
DLHP Kota Ambon melakukan pemantauan kualitas udara sebanyak dua kali dalam sehari. Dari hasil pemantauan hingga pukul 11.00 WIT, kadar ozon atau O3 tercatat mencapai 175 mikrogram per meter kubik.
Apriez mengatakan angka tersebut menunjukkan kondisi yang tidak aman bagi kesehatan masyarakat. Sementara itu, indikator kualitas udara lainnya masih berada dalam kondisi yang dinilai cukup baik.
“Hari ini sampai dengan jam 11 siang tadi, untuk kondisi ozonnya itu di 175 mikrogram per meter kubik. Itu berarti tidak aman bagi kesehatan masyarakat. Kalau indikator-indikator yang lain saya rasa masih baik, tapi sangat penting ozon ini,” ujarnya.
Kondisi tersebut terutama perlu diwaspadai oleh kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, dan ibu hamil. Mereka diminta mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara belum kembali membaik.
“Untuk kelompok-kelompok rentan sebaiknya aktivitas di luar rumah menggunakan masker untuk menjaga kemungkinan infeksi saluran pernapasan atau ISPA,” kata Apriez.
Menurut dia, penggunaan masker saat berada di luar ruangan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan udara yang tercemar.
DLHP Kota Ambon juga memastikan pemantauan kualitas udara akan terus dilakukan. Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi udara sekaligus melihat apakah pencemaran masih dalam batas normal atau sudah memberikan dampak yang lebih besar terhadap kesehatan.
Selain mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan, Apriez meminta warga menghentikan kebiasaan membakar sampah maupun melakukan pembakaran lahan.
“Kami selalu mengimbau bahwa pembakaran lahan itu sangat kami larang. Terutama juga bagi masyarakat yang membakar sampah, itu juga sangat dilarang,” tegasnya.
Ia meminta sampah tidak dibakar, tetapi ditimbun atau ditempatkan pada lokasi yang telah ditentukan. Pemerintah Kota Ambon, kata dia, akan berupaya melakukan pengangkutan sampah.
Menurut Apriez, asap dari pembakaran sampah tidak hanya memperburuk kualitas udara, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi tersebut semakin diperparah oleh kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino. Curah hujan yang rendah menyebabkan kekeringan terjadi di sejumlah wilayah Kota Ambon.
“Ini semua karena dampak dari El Nino sehingga curah hujan di Kota Ambon ini sangat sedikit sehingga menyebabkan kekeringan di mana-mana,” ujarnya.
Penurunan curah hujan juga berdampak terhadap debit air. Kondisi hutan dan lahan yang semakin kering membuatnya lebih mudah terbakar.
“Debit air juga menurun sehingga hutan dan lahan menjadi sangat kritis sehingga ada percikan sedikit saja bisa sebabkan kebakaran hutan dan lahan di Kota Ambon,” jelas Apriez.
Karena itu, masyarakat diminta ikut mencegah terjadinya kebakaran dengan tidak melakukan pembakaran terbuka. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas udara Ambon dan mengurangi risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan. (Tiar)















