Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum dapat memastikan penyebab munculnya daratan menyerupai pulau di perairan Desa Yamru, Kecamatan Tayando-Tam, Kota Tual, Maluku.
Fenomena alam yang kembali muncul pada Senin (2/11) sekitar pukul 02.00 WIT itu diperkirakan memiliki panjang 60 meter dan lebar 30 meter.
Kemunculan daratan tersebut menarik perhatian karena ukurannya disebut melebihi gumpalan batu besar yang selama ini telah terbentuk secara permanen di kawasan perairan tersebut.
Koordinator Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Karang Panjang Ambon, Supartoyo, mengatakan pihaknya belum bisa memastikan faktor yang menyebabkan munculnya material dari dasar laut secara tiba-tiba.
Kepada netmaluku, Selasa (3/11), Supartoyo menjelaskan, berdasarkan catatan aktivitas seismik, wilayah sekitar Tanimbar Maluku, sempat mengalami gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,4 pada 29 Oktober 2026 pukul 07.06.47 WIT.
Gempa tersebut dirasakan hingga Kepulauan Tanimbar, Banda Neira, serta wilayah Papua, termasuk Sorong dan Kaimana.
“Namun, berdasarkan data seismisitas, selama bulan Oktober terdapat 334 kejadian gempa bumi di wilayah Maluku,” kata Supartoyo.
Meski terdapat aktivitas gempa bumi di wilayah tersebut, BMKG belum dapat memastikan apakah fenomena pulau timbul berkaitan dengan aktivitas kegempaan.
Supartoyo menyebutkan, hasil pemantauan sinyal seismik BMKG tidak menunjukkan adanya anomali pada waktu yang dilaporkan masyarakat terkait kemunculan daratan tersebut.
“Berdasarkan sinyal seismik yang kami monitoring, tidak ada anomali di jam tersebut. Jadi, kami belum dapat memastikan fenomena ini akibat apa,” ujarnya.
Menurut Supartoyo, diperlukan analisis lebih lanjut dari instansi terkait, khususnya yang memiliki kompetensi di bidang geologi, untuk mengetahui penyebab munculnya daratan tersebut.
BMKG belum dapat memastikan apakah fenomena itu berkaitan dengan aktivitas vulkanik ataupun proses geologi lainnya.
Sementara itu, fenomena pulau timbul di perairan Desa Yamru bukan pertama kali terjadi. Berdasarkan informasi yang dihimpun, daratan tersebut pertama kali muncul pada 1982, sebelum kembali tenggelam beberapa tahun kemudian.
Pada 1992, daratan itu kembali muncul secara bertahap hingga membentuk gumpalan batu besar yang bertahan hingga sekarang.
Fenomena serupa kembali terjadi pada 2023. Namun, daratan yang muncul saat itu hanya bertahan beberapa hari sebelum akhirnya tenggelam kembali.
Kemunculan terbaru pada 2 November 2026 kembali memunculkan pertanyaan mengenai proses alam yang terjadi di dasar laut kawasan tersebut.
Pemeriksaan langsung oleh instansi teknis dan analisis terhadap material yang muncul dinilai diperlukan untuk memastikan penyebab fenomena tersebut. (Tiar)














