Puluhan petani di Desa Deboway, Kabupaten Buru, Maluku, sempat terancam gagal panen setelah lahan persawahan seluas sekitar 50 hektare mengalami kekeringan. Tanaman padi yang telah memasuki fase pembentukan calon isi gabah atau padi bunting tidak mendapatkan pasokan air akibat terganggunya sistem irigasi Bendung Way Dafa.
Kondisi tersebut terjadi setelah saluran primer Daerah Irigasi (DI) Way Dafa mengalami kerusakan sepanjang kurang lebih 7 meter. Selain itu, pintu air intake kiri Bendung Way Dafa sempat ditutup oleh masyarakat adat Desa Widit.
Penutupan pintu air tersebut berkaitan dengan permintaan masyarakat adat agar petugas operasi dan pemeliharaan (OP) Bendung Way Dafa merupakan anak adat Desa Widit.
Situasi itu kemudian mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Buru bersama DPRD Kabupaten Buru, Dinas Pertanian, Dinas Pekerjaan Umum, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), serta Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku.
Kepala BWS Maluku, Ruslan Malik, mengatakan pihaknya berupaya memfasilitasi penyelesaian persoalan irigasi agar kebutuhan air bagi tanaman padi petani dapat segera terpenuhi.
“Yang paling penting adalah air bisa kembali mengalir ke lahan pertanian masyarakat. Kami bersama pemerintah daerah, DPRD, Gapoktan dan masyarakat melakukan langkah-langkah di lapangan agar persoalan ini bisa segera diselesaikan,” kata Ruslan Malik, Jumat (28/8).
Menurut Ruslan, BWS Maluku turut memfasilitasi pembersihan saluran serta perbaikan saluran primer DI Way Dafa dengan mendistribusikan geobag untuk mendukung penanganan kerusakan saluran.
Langkah tersebut dilakukan agar setelah pintu intake dibuka, aliran air dari Bendung Way Dafa dapat kembali mengalir menuju petak-petak sawah petani secara merata dan optimal.
Pada Kamis (27/8), masyarakat adat akhirnya membuka pintu air intake kiri Bendung Way Dafa. Pembukaan tersebut disaksikan DPRD Kabupaten Buru, BWS Maluku, BRMP Kementerian Pertanian, Gapoktan, serta para petani.
Tak hanya membuka pintu air, kegiatan dilanjutkan dengan pembersihan di areal Bendung Way Dafa dan sepanjang saluran primer DI Way Dafa.
Hasilnya, air irigasi mulai mengalir hingga ke DI Way Lata Tengah dan DI Dafa SP 2 yang sebelumnya mengalami kekeringan.
Bagi petani Desa Deboway, mengalirnya kembali air ke areal persawahan menjadi angin segar. Sebab, tanaman padi mereka sedang berada pada fase penting menjelang pengisian gabah yang membutuhkan ketersediaan air secara optimal.
Ruslan menegaskan, penanganan irigasi tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga produktivitas pertanian masyarakat sekaligus memastikan infrastruktur sumber daya air dapat memberikan manfaat langsung bagi petani.
“Ini adalah kepentingan bersama. Kita ingin memastikan infrastruktur irigasi yang ada dapat berfungsi dan air bisa sampai ke sawah petani. Dengan begitu, tanaman yang sudah memasuki fase penting pertumbuhan tidak sampai mengalami kekeringan,” ujarnya.
Para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Gapoktan dan petani pun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas langkah penanganan tersebut.
Mereka menyampaikan terima kasih kepada Presiden RI, Menteri Pekerjaan Umum, dan Direktur Jenderal Sumber Daya Air melalui BWS Maluku yang telah memfasilitasi perbaikan saluran primer dan kegiatan pembersihan saluran irigasi.
Dengan kembali mengalirnya air ke sawah, para petani berharap tanaman padi seluas 50 hektare di Desa Deboway dapat tumbuh hingga masa panen tanpa kembali terkendala kekeringan.
Penanganan DI Way Dafa dan Way Lata ini juga menjadi penting di tengah ancaman kemarau yang berdampak terhadap ketersediaan air untuk sektor pertanian di sejumlah wilayah Maluku. (Tiar)















