Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku. Kobaran api kali ini terjadi di dua lokasi berbeda di kawasan Kota Bula pada Jumat (31/7) sekitar pukul 14.40 WIT dan sempat mengancam permukiman warga serta sebuah tempat ibadah.
Kondisi cuaca yang panas disertai kemarau berkepanjangan membuat lahan kering dipenuhi semak belukar mudah terbakar. Api dengan cepat membesar sehingga memicu kepanikan warga yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Kepala Bidang Pencegahan Kebakaran Kabupaten Seram Bagian Timur, Wahab Rumakat, mengatakan pihaknya langsung mengerahkan personel beserta satu unit mobil pemadam kebakaran sesaat setelah menerima laporan dari masyarakat.
“Begitu menerima laporan, kami langsung mengerahkan personel bersama mobil pemadam menuju lokasi untuk melakukan pemadaman agar api tidak semakin meluas,” kata Wahab Rumakat kepada Netmaluku.com, Jumat (31/7).
Menurut Wahab, terdapat dua titik kebakaran yang terjadi hampir bersamaan, masing-masing berada di sekitar SD Negeri 8 Bula dan di kawasan Jalan Besi Tua, Wailola Besar.
Setibanya di lokasi, personel Damkar langsung melakukan pemadaman dengan menyemprotkan air ke titik-titik api yang terus merambat di lahan kering. Tiupan angin dan vegetasi yang mengering akibat musim kemarau membuat kobaran api cepat membesar sehingga petugas harus bekerja ekstra untuk mengendalikan situasi.
“Kami memprioritaskan titik api yang sudah mendekati rumah warga dan tempat ibadah. Syukur, sebelum api merambat lebih jauh, personel berhasil menguasai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Setelah berjibaku selama hampir satu jam, petugas akhirnya berhasil menjinakkan seluruh kobaran api. Sekitar pukul 15.30 WIT, dua titik kebakaran berhasil dipadamkan dan personel kemudian melanjutkan proses pendinginan guna memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala.
Wahab mengungkapkan, kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Seram Bagian Timur bukan kali pertama terjadi pada musim kemarau tahun ini. Sejak 10 Juli 2026, sejumlah titik kebakaran terus bermunculan akibat kondisi cuaca yang sangat kering.
Ia menduga tingginya suhu udara dan munculnya titik panas menjadi salah satu faktor yang menyebabkan lahan mudah terbakar. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan maupun membuang puntung rokok sembarangan. Jika melihat adanya titik api, segera laporkan kepada Damkar atau pihak terkait agar bisa segera ditangani sebelum meluas,” tegas Wahab.
Pihak Damkar berharap partisipasi aktif masyarakat dapat membantu mempercepat penanganan setiap kejadian kebakaran sehingga dampaknya dapat diminimalkan, terutama terhadap keselamatan warga, fasilitas umum, maupun lingkungan.
Hingga proses pendinginan selesai dilakukan, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan bangunan dalam peristiwa tersebut. Namun, petugas tetap meningkatkan kesiapsiagaan mengingat potensi kebakaran hutan dan lahan masih cukup tinggi selama musim kemarau berlangsung di Kabupaten Seram Bagian Timur. (Tiar)















