Warga Kecamatan Batabual, Kabupaten Buru, Maluku, kembali menyuarakan keluhan terkait buruknya infrastruktur dasar yang hingga kini belum tuntas dibangun pemerintah.
Jalan penghubung antardesa yang rusak, minimnya jembatan, hingga akses transportasi yang sulit membuat masyarakat di wilayah itu masih hidup dalam keterisolasian.
Kondisi tersebut semakin memprihatinkan karena berdampak langsung terhadap dunia pendidikan. Sejumlah pelajar di Dusun Waihani, Desa Namlea Ilat, Kecamatan Batabual, bahkan harus mempertaruhkan nyawa saat berangkat dan pulang sekolah dengan menerobos banjir yang menggenangi akses jalan.
Pemandangan itu bukan kali pertama terjadi. Setiap musim hujan, para siswa dan warga terpaksa melintasi aliran air yang deras karena tidak tersedia akses yang aman dan memadai.
Salah seorang warga Batabual, Yusuf, mengatakan persoalan infrastruktur di wilayahnya sudah berlangsung selama puluhan tahun. Namun hingga kini belum ada penyelesaian yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Menurutnya, setiap momentum politik, Batabual selalu menjadi perhatian para calon kepala daerah maupun calon legislatif. Berbagai janji pembangunan jalan dan jembatan disampaikan kepada masyarakat. Namun setelah pesta demokrasi usai, harapan warga kembali menguap.
“Batabual selalu masuk dalam visi dan misi politik. Setiap kampanye, pembangunan jalan dan jembatan selalu dijanjikan. Tapi setelah terpilih, kami kembali menunggu tanpa kepastian,” ujar Yusuf, Selasa (9/6).
Ia menilai keterisolasian yang dialami masyarakat Batabual seharusnya sudah lama menjadi perhatian serius pemerintah. Sebab akses jalan dan jembatan bukan hanya berkaitan dengan aktivitas ekonomi, tetapi juga menyangkut keselamatan warga.
Ketika musim hujan tiba, sejumlah sungai meluap dan memutus akses transportasi masyarakat. Sementara saat musim timur, warga yang mengandalkan jalur laut juga harus menghadapi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi.
Akibat kondisi tersebut, layanan pendidikan dan kesehatan sering terganggu. Anak-anak kesulitan menjangkau sekolah, sementara warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan darurat kerap menghadapi kendala transportasi.
“Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya ingin hak dasar sebagai warga negara dipenuhi. Anak-anak harus bisa ke sekolah dengan aman dan masyarakat bisa beraktivitas tanpa rasa takut,” katanya.
Warga mengaku telah berulang kali menyampaikan aspirasi kepada pemerintah daerah melalui berbagai cara, termasuk aksi demonstrasi. Namun hingga kini pembangunan infrastruktur yang diharapkan belum sepenuhnya terealisasi.
Masyarakat berharap pemerintahan Kabupaten Buru saat ini dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap kondisi Batabual. Mereka menaruh harapan besar agar pembangunan jalan dan jembatan yang selama ini dinantikan dapat segera diwujudkan.
Bagi warga, pembangunan infrastruktur bukan lagi sekadar program pembangunan biasa. Jalan dan jembatan menjadi kebutuhan mendesak untuk mengakhiri keterisolasian yang selama puluhan tahun membelenggu Batabual.
Mereka berharap pemerintah tidak lagi menjadikan Batabual sebagai komoditas politik setiap musim pemilihan, melainkan menghadirkan bukti nyata melalui pembangunan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. (Wan)















