Kenaikan harga kacang kedelai impor dalam dua pekan terakhir mulai dirasakan para produsen tahu dan tempe di Kota Ambon. Lonjakan harga bahan baku tersebut membuat biaya produksi meningkat, sementara harga jual produk masih dipertahankan demi menjaga daya beli masyarakat.
Sukadi, salah satu produsen tahu-tempe di Ambon mengungkapkan, Maluku sebenarnya pernah menjadi salah satu daerah penghasil kedelai yang cukup potensial.
Menurutnya, sejumlah wilayah seperti Kobisonta, Larat, Saumlaki, Maluku Tenggara, hingga Maluku Tenggara Barat pernah menghasilkan kedelai dengan kualitas yang baik.
“Kedelai itu paling bagus sewaktu Presiden Soeharto. Di Kobisonta, Larat, Saumlaki, Maluku Tenggara sampai Maluku Tenggara Barat hasil kedelainya sangat bagus. Tetapi di Maluku biaya transportasi terlalu mahal, akhirnya petani tidak mendapatkan keuntungan yang sesuai,” ujarnya saat ditemui, Selasa (2/6).
Ia menjelaskan, kenaikan harga kedelai impor dalam dua pekan terakhir berdampak langsung terhadap usaha yang dijalankannya. Omzet penjualan menurun cukup tajam karena biaya produksi terus meningkat.
Akibat kondisi tersebut, para produsen harus bekerja lebih keras untuk menjaga kelangsungan usaha. Bahkan, tidak jarang mereka mengalami kerugian dalam satu kali proses produksi.
Meski demikian, para pelaku usaha masih memilih mempertahankan harga jual produknya. Saat ini, tahu dijual seharga Rp1.500 per potong, sementara tempe Rp1.250 per potong.
“Harga jual belum kami naikkan. Tahu masih Rp1.500 per potong dan tempe Rp1.250 per potong. Kalau dinaikkan lagi, kami khawatir masyarakat tidak membeli,” katanya.
Di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat, para pengusaha juga berkomitmen mempertahankan tenaga kerja yang ada. Mereka tidak melakukan pengurangan karyawan maupun pemotongan gaji meski keuntungan semakin menipis.
“Karyawan tetap bekerja seperti biasa dan gaji mereka tidak kami kurangi. Kadang-kadang kami harus menanggung rugi dalam sekali produksi, tetapi usaha harus tetap berjalan,” ungkapnya.
Para produsen berharap pemerintah dapat mencari solusi untuk menekan harga kedelai impor sekaligus mendorong pengembangan kedelai lokal di Maluku.
Dengan demikian, ketergantungan terhadap pasokan impor dapat berkurang dan usaha tahu-tempe tetap bertahan di tengah gejolak harga bahan baku. (Erhan)













