Masyarakat Negeri Administratif Lonthoir, Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, kembali menggelar tradisi adat Kasih Makan Hutan dan Kasih Makan Laut sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus ungkapan syukur atas alam yang menjadi sumber kehidupan.
Tradisi tahunan yang berlangsung pada Minggu (25/10) itu diikuti para orang tua adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga setempat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tradisi Buka Kampong. Setelah doa bersama di rumah kampong atau rumah adat, rombongan kemudian bergerak menuju Hutan Kele, kawasan perkebunan pala di Lonthoir, untuk melaksanakan ritual Kasih Makan Hutan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Polsek Banda Naira, Koramil 1502-01/Banda, tokoh agama, imam, serta orang tua adat dari Kampung Fiat dan Namasawar.

Penjabat Kepala Pemerintah Negeri Administratif (KPNA) Lonthoir, Saadah Alkatiri, mengatakan tradisi adat memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat karena mengandung nilai penghormatan kepada leluhur, kebersamaan, persatuan, rasa syukur, dan tanggung jawab menjaga alam.
“Adat mengajarkan kita tentang penghormatan kepada para leluhur, kebersamaan, persatuan, rasa syukur, serta tanggung jawab untuk menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan kita,” kata Saadah dalam sambutannya.
Menurut dia, pelaksanaan tradisi adat bukan sekadar meneruskan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga nilai-nilai luhur agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Saadah mengapresiasi para orang tua adat yang selama ini konsisten menjaga dan mewariskan nilai-nilai tersebut. Ia juga menilai sinergi antara pemerintah negeri dan lembaga adat penting untuk menjaga identitas serta persatuan masyarakat Lonthoir.
“Para orang tua adat harus didengarkan, tokoh agama harus dirangkul, dan seluruh masyarakat harus dilibatkan,” ujarnya.
Ia berharap keterlibatan seluruh unsur masyarakat dapat membuat Lonthoir tetap aman, rukun, dan kuat dalam menghadapi perubahan zaman.
Sementara itu, Camat Kepulauan Banda, Rusdy Saiman, menekankan pentingnya persatuan masyarakat dalam menjaga adat sekaligus mengembangkan berbagai potensi Kepulauan Banda untuk kesejahteraan bersama.
Menurut Rusdy, tradisi Kasih Makan Hutan dan Kasih Makan Laut harus menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan masyarakat, baik dalam kehidupan adat maupun keagamaan.
“Dengan kegiatan ini, anak cucu Andan Orsia bisa bersatu. Adat dan agama, intinya mengajarkan kita bermuara ke situ. Dengan bersatu, itu modal utama untuk kita semua,” kata Rusdy.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpecah karena persoalan sesaat. Sebaliknya, persatuan perlu terus diperkuat agar masyarakat mampu menghadapi berbagai tantangan sekaligus mengembangkan potensi daerah.
Rusdy juga mendorong para orang tua adat menyusun aturan adat sebagai pedoman pelaksanaan berbagai kegiatan adat di Negeri Andan Orsia, nama lain dari Lonthoir.
Ia menegaskan adat bukan milik kelompok tertentu, melainkan menjadi bagian dari identitas seluruh masyarakat sehingga pelestariannya harus menjadi tanggung jawab bersama.
“Adat ini bukan sekelompok tertentu. Ini milik masyarakat semua, khususnya masyarakat Andan Orsia. Semua harus merasa memiliki,” ujarnya.
Rusdy menambahkan, tradisi Kasih Makan Hutan dan Kasih Makan Laut merupakan ungkapan syukur kepada Allah SWT sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur.
Ia juga mengapresiasi para pemangku adat, pemerintah negeri, dan masyarakat yang terus mempertahankan kebudayaan Lonthoir.

Setelah seremoni dan sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pementasan Tari Cakalele sebelum rombongan menuju kawasan perkebunan pala Hutan Kele untuk melaksanakan ritual Kasih Makan Hutan.
Rangkaian kegiatan di Hutan Kele kemudian ditutup dengan Tari Lusi dan makan patita bersama.
Sekitar pukul 14.00 WIT, para tokoh adat dan masyarakat bergerak menuju Pantai Lahar Lonthoir untuk melaksanakan ritual Kasih Makan Laut.
Usai prosesi adat, masyarakat kembali disuguhkan pementasan Tari Cakalele, Tari Siamale, dan Tari Lusi. Kegiatan tersebut turut disaksikan masyarakat setempat, peneliti, hingga wisatawan mancanegara.
Pelaksanaan tradisi Kasih Makan Hutan dan Kasih Makan Laut menjadi bagian dari upaya masyarakat Lonthoir menjaga warisan budaya leluhur sekaligus memperkuat hubungan antara manusia, adat, dan alam yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kepulauan Banda. (Kasman)
















