Tokoh adat Seram Bagian Barat (SBB), Sahlan Heluth, mendapat apresiasi dari para Upulatu dan Saniri Negeri usai memimpin jalannya Silaturahmi Adat Lima Negeri di wilayah Batang Air Eti, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku.
Pertemuan adat yang berlangsung di Baileo Pisiahtu, Negeri Luhu, beberapa waktu lalu itu menghadirkan lima negeri adat, yakni Negeri Waesamu, Negeri Kawa, Negeri Morekau, Negeri Piru, dan Negeri Luhu.
Agenda tersebut dikemas dalam kegiatan Silaturahmi Adat dan Makan Patita yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan nilai-nilai adat yang kuat.
Forum adat ini disebut-sebut menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah perjalanan adat masyarakat Batang Air Eti.
Dalam pertemuan itu, Sahlan Heluth tampil memimpin forum dengan gaya khas yang tenang, komunikatif, dan mampu mencairkan suasana diskusi. Jalannya forum berlangsung tertib namun tetap hidup, sehingga seluruh peserta dapat menyampaikan pandangan mereka secara terbuka.

Sejumlah tokoh adat yang hadir mengaku puas dengan cara Sahlan mengelola forum. Menurut mereka, suasana pertemuan terasa sejuk dan penuh makna karena setiap peserta diberikan ruang yang sama untuk berbicara dalam bingkai persaudaraan adat.
“Forum seperti ini jarang terjadi. Semua negeri duduk bersama dalam suasana adat yang sakral untuk membicarakan masa depan bersama,” ujar salah satu peserta pertemuan.
Pertemuan adat tersebut membahas berbagai dinamika sosial dan persoalan yang berkembang di wilayah Batang Air Eti. Selain itu, forum juga menjadi ruang memperkuat hubungan antarnegeri serta menjaga nilai persatuan masyarakat adat di Seram Bagian Barat.
Salah satu keputusan penting yang lahir dalam forum itu ialah kesepakatan menjadikan Silaturahmi Adat Batang Air Eti sebagai agenda rutin yang akan dilaksanakan setiap enam bulan sekali.
Kesepakatan tersebut dinilai sebagai langkah awal dalam membangun tata kelola adat yang lebih hidup dan terorganisir, sekaligus menjaga warisan budaya leluhur tetap dihormati oleh generasi muda.
Bagi masyarakat adat yang hadir, pertemuan itu bukan sekadar seremoni, melainkan simbol persatuan anak negeri yang selama ini terikat dalam hubungan sejarah, budaya, dan pela gandong.
Dengan lahirnya sejumlah rekomendasi bersama dalam forum tersebut, masyarakat berharap hubungan antarnegeri di wilayah Batang Air Eti semakin kuat dan mampu menjadi contoh pelestarian adat di Maluku.(Tim)
















