Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku terus melakukan penanganan dampak kekeringan di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku. Distribusi air bersih dilakukan dengan mengerahkan mobil tangki ke sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.
Penyaluran air bersih tersebut dilakukan pada Rabu (9/9) dan Kamis (10/9), menyasar permukiman warga di Desa Rumberu, Desa Kawa, hingga Dusun Pohon Batu, Kabupaten SBB.
Pada Rabu, 9 September 2026, BWS Maluku menyalurkan air bersih sebanyak 5.000 liter menggunakan mobil tangki ke Desa Rumberu, khususnya Dusun Kaiwatu. Distribusi ini ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat yang terdampak kekeringan.
Sehari kemudian, Kamis (10/9), penyaluran kembali dilakukan di Desa Kawa RT 01 dan Dusun Pohon Batu dengan menggunakan mobil tangki berkapasitas 4.000 liter.
Di Desa Kawa RT 01, air bersih disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 120 kepala keluarga atau 504 jiwa. Sementara di Dusun Pohon Batu, penerima manfaat mencapai 167 kepala keluarga atau 624 jiwa.
Kepala BWS Maluku, Ruslan Malik, mengatakan distribusi air bersih merupakan bagian dari upaya pemerintah membantu masyarakat yang kesulitan memperoleh sumber air, terutama di wilayah yang terdampak kekeringan.
“Kami terus melakukan penanganan dengan mendistribusikan air bersih ke wilayah yang masyarakatnya mengalami kesulitan mendapatkan air layak konsumsi. Penyaluran dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan di lapangan,” kata Ruslan.
Menurut dia, kondisi di sejumlah wilayah SBB cukup memprihatinkan. Warga tidak hanya menghadapi keterbatasan sumber air, tetapi juga persoalan kualitas air yang tersedia.
Di Desa Kawa dan Dusun Pohon Batu, misalnya, sebagian sumur warga menghasilkan air yang terasa payau bahkan mengandung garam sehingga tidak layak digunakan untuk kebutuhan memasak dan minum.
Kondisi tersebut membuat masyarakat sangat bergantung pada bantuan distribusi air bersih. Namun, penyaluran di lapangan juga menghadapi sejumlah kendala.
Petugas harus mencari sumber air dengan debit yang cukup untuk mengisi mobil tangki. Dalam laporan lapangan, proses pengisian air bahkan membutuhkan waktu hingga enam jam akibat kecilnya debit sumber air.
Selain itu, sebagian warga belum memiliki tandon atau profil tank untuk menampung air dalam jumlah besar. Mereka masih mengandalkan jeriken, drum, dan wadah lain dengan kapasitas terbatas.
Ruslan mengatakan persoalan tersebut menjadi perhatian dalam penanganan kekeringan, karena kebutuhan masyarakat bukan hanya mendapatkan air, tetapi juga memastikan air yang tersedia dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Yang menjadi tantangan adalah ketersediaan sumber air dan proses pengisian di lapangan. Karena itu, kami menyesuaikan distribusi dengan kondisi sumber air serta kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Dalam kegiatan penanganan kekeringan tersebut, BWS Maluku bersama BPBPK Maluku terus melakukan pemantauan dan distribusi ke titik-titik yang membutuhkan.
Untuk penyaluran berikutnya, tim penanganan kekeringan BWS Maluku merencanakan distribusi air bersih ke sejumlah titik di Kabupaten SBB.
Penanganan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan air bersih akibat kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Maluku. (Tiar)













