Program “Polisi Mengajar” resmi diluncurkan oleh Kapolda Maluku Dadang Hartanto bersama Gubernur Hendrik Lewerissa di Lapangan Merdeka, Kecamatan Sirimau Ambon, Senin (4/5), bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional.
Program yang baru pertama kali digagas di Maluku ini akan diterapkan di 11 kabupaten/kota. Peluncurannya dilakukan secara serentak di sela upacara Hardiknas.
Kapolda Maluku, Irjen Pol Dadang Hartanto, menegaskan bahwa penyusunan modul menjadi kunci utama agar program ini tidak sekadar bersifat seremonial.
“Pembangunan modul menjadi kunci agar program Polisi Mengajar tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar terstruktur, terukur, dan berdampak,” kata Dadang.
Ia menjelaskan, modul tersebut harus mengatur alokasi waktu pembelajaran agar kehadiran polisi dapat terintegrasi dengan kegiatan belajar mengajar tanpa mengganggu kurikulum utama.
Selain itu, perlu ditentukan ruang integrasi materi, apakah berdiri sendiri sebagai muatan lokal atau disisipkan dalam mata pelajaran seperti PPKN, bimbingan konseling, maupun kegiatan ekstrakurikuler.
“Modul ini juga harus menjadi sarana interaksi yang efektif antara polisi dan pelajar. Tidak sekadar penyampaian materi, tetapi membuka ruang dialog, berbagi pengalaman, dan membangun kedekatan emosional,” ujarnya.
Menurutnya, intervensi sejak dini terhadap pelajar sangat penting, mengingat mereka merupakan generasi masa depan.
“Pendekatan yang dilakukan harus mampu menyentuh realitas di lapangan, termasuk fenomena kenakalan remaja, lingkungan pergaulan, hingga potensi konflik di kalangan siswa,” jelasnya.
Dadang menambahkan, materi dalam program ini juga perlu memuat penguatan relasi yang sehat antara murid dan guru, serta membangun sekolah sebagai ruang yang aman dan nyaman.
“Harus ada penanaman nilai kedisiplinan, empati, serta kemampuan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pembelajaran budaya damai sebagai bagian dari materi utama dalam program tersebut.
“Ini bukan hanya teori, tetapi harus dikemas dalam praktik melalui simulasi, diskusi kasus, hingga kegiatan kolaboratif yang melibatkan siswa,” tutupnya.














