PIRU-Banjir rob kembali menerjang permukiman warga di Dusun Tatinang, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku.
Peristiwa yang terjadi pada akhir Februari ini meninggalkan dampak serius, termasuk rusaknya puluhan makam akibat terjangan gelombang tinggi.
Air laut meluap hingga merendam puluhan rumah warga dan tempat ibadah. Di kawasan pesisir, gelombang menghantam area pemakaman hingga menyebabkan kerusakan cukup parah.
Talud penahan ombak setinggi 1,6 meter tak mampu menahan gelombang yang mencapai sekitar 2 meter. Air pun dengan mudah menerobos masuk ke permukiman warga.
Kepala Dusun Tatinang, Jainuddin Lapacu, mengatakan banjir rob memang terjadi setiap tahun, namun kali ini dampaknya jauh lebih besar.
“Kejadian seperti ini sudah terjadi setiap tahun, namun tidak separah tahun ini. Tanggal 25 Februari itu paling parah, gelombang sampai masuk ke dalam kampung,” ujar Jainuddin kepada netmaluku.com Sabtu (4/4).
Ia menambahkan, air laut bahkan masuk ke dalam rumah warga meski tidak menyebabkan kerusakan struktural yang signifikan.
“Kami sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah untuk membangun talud penahan ombak, supaya ke depan tidak terjadi lagi seperti ini,” katanya.
Warga lainnya, Ardi, juga berharap pemerintah segera turun tangan melihat langsung kondisi di lapangan.
“Kami sangat berharap kehadiran pemerintah untuk melihat langsung kebutuhan di sini. Yang paling kurang itu tanggul laut, karena ini daerah pesisir,” kata Ardi.
Dusun Tatinang dihuni oleh 78 kepala keluarga atau sekitar 271 jiwa. Banjir rob biasanya terjadi pada Januari hingga April, namun tahun ini dinilai paling parah oleh warga.
Hingga beberapa hari setelah kejadian, air laut masih terus masuk ke permukiman meski tanpa gelombang tinggi. Peristiwa ini telah dilaporkan ke BPBD Kabupaten Seram Bagian Barat.
Warga berharap pemerintah segera membangun tanggul laut yang lebih kuat agar kerusakan, termasuk di area pemakaman, tidak terus terulang setiap tahun.














