Musyawarah Daerah (MUSYDA) Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Buru dinilai sebagai momentum penting dalam menentukan arah gerakan organisasi ke depan.
Sekretaris Wilayah Pemuda Muhammadiyah, Samsul Sampulawa
, menegaskan bahwa forum tersebut tidak boleh dimaknai sekadar agenda seremonial, melainkan sebagai ruang strategis untuk konsolidasi dan penguatan kepemimpinan.
“MUSYDA harus menjadi momentum konsolidasi gerakan sekaligus rekonstruksi arah kepemimpinan organisasi di tingkat daerah,” ujar Samsul, Sabtu (02/5).
Ia menjelaskan, dalam perspektif kelembagaan, MUSYDA merupakan bagian dari sistem demokrasi internal organisasi yang menjunjung tinggi musyawarah sebagai mekanisme utama pengambilan keputusan.
“Prosesnya harus mencerminkan prinsip deliberatif, partisipatif, dan menjunjung tinggi etika organisasi,” lanjutnya.
Samsul juga mengingatkan agar pelaksanaan MUSYDA yang dijadwalkan pada 15 Mei 2024 tidak terjebak pada praktik-praktik pragmatis yang hanya berorientasi pada perebutan posisi.
“Jangan sampai forum ini berubah menjadi ajang transaksional atau memicu polarisasi internal. Itu bisa merusak marwah organisasi,” tegasnya.
Menurutnya, MUSYDA seharusnya menjadi ruang kontestasi gagasan dan pertukaran visi keumatan yang konstruktif, bukan sekadar kompetisi kekuasaan.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya memiliki legitimasi struktural, tetapi juga kapasitas intelektual dan integritas moral.
“Kita butuh pemimpin yang progresif, adaptif, dan tetap berakar pada nilai-nilai ideologis gerakan,” katanya.
Ia berharap, hasil MUSYDA nantinya mampu memperkuat posisi Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Buru sebagai kekuatan strategis dalam menjawab berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan.














