SERAM BAGIAN BARAT-Warga Dusun Tatinang, Desa Waesala, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat, masih menghadapi krisis air bersih yang tak kunjung teratasi. Hingga kini, masyarakat setempat terpaksa mengandalkan air hujan sebagai sumber utama untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Keterbatasan sumber air layak minum membuat warga harus bertahan dengan kondisi seadanya. Saat musim hujan, mereka menampung air menggunakan drum plastik berukuran besar yang diletakkan di halaman rumah. Air tersebut kemudian disimpan sebagai cadangan untuk beberapa bulan ke depan.
Salah satu warga, Dina Irwan, mengaku kondisi ini sudah berlangsung lama tanpa adanya solusi konkret.
“Di Dusun Tatinang ini, kami dari dulu hanya berharap air hujan untuk dikonsumsi,” ujar Dina kepada netmaluku.com Sabtu 28/3.

Menurutnya, situasi menjadi semakin sulit ketika musim kemarau tiba. Warga tidak memiliki pilihan selain menyeberang ke dusun lain demi mendapatkan air bersih.
“Kalau musim kemarau, kami harus pakai bodi (perahu) menyeberang ke Dusun Hanunu, sekitar 15 sampai 20 menit, untuk ambil air bersih. Karena di sana ada sumur yang bisa diminum,” katanya.
Sementara itu, untuk kebutuhan mandi dan mencuci, warga memanfaatkan air payau dari sumur yang tersebar di beberapa titik permukiman. Meski tidak layak konsumsi, air tersebut tetap digunakan karena tidak ada alternatif lain.
Kepala Dusun Tatinang, Jainudin Lapacu, membenarkan kondisi yang dialami warganya. Ia menyebut, ketergantungan terhadap air hujan menjadi gambaran nyata sulitnya akses air bersih di wilayah tersebut.
“Untuk konsumsi air bersih, warga biasanya hanya gunakan air hujan,” ungkap Jainudin.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya sempat ada perhatian dari instansi terkait yang datang melakukan survei lapangan. Bahkan, mereka telah meninjau salah satu sumber mata air dan melakukan pengukuran lokasi yang direncanakan untuk pembangunan sumur. Namun hingga kini, belum ada realisasi lanjutan.
“Memang pernah ada dari dinas datang lihat kondisi sumber air dan ukur lokasi untuk pembuatan sumur, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” jelasnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan hampir setiap rumah warga memiliki drum penampung air hujan. Beberapa di antaranya sudah terisi penuh, sementara lainnya masih kosong dan disiapkan untuk menampung air saat hujan turun.
Kondisi ini menegaskan bahwa akses terhadap air bersih masih menjadi persoalan mendasar di sejumlah wilayah terpencil di Indonesia. Warga Dusun Tatinang pun berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat untuk menghadirkan solusi yang berkelanjutan.
“Kami sangat berharap ada bantuan air bersih dari pemerintah, supaya warga tidak terus bergantung pada air hujan,” tutup Dina.











