Aksi pemalangan Jalan Trans Seram di Jembatan Waiour, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, akhirnya dibuka setelah sempat diblokade warga pada Sabtu (25/04) siang.
Pemalangan dilakukan sebagai bentuk protes atas penebangan pohon cengkih milik warga oleh orang tak dikenal (OTK).
Kasihumas Polres Seram Bagian Barat, AKP Jhon R. Soplanit, mengatakan kejadian bermula sekitar pukul 08.30 WIT saat saksi melihat pohon cengkih milik warga masih berdiri. Namun saat kembali ke lokasi, pohon tersebut sudah ditebang.

“Awalnya pohon masih dalam kondisi utuh, namun saat saksi kembali, pohon tersebut sudah ditebang,” ujar AKP Soplanit.
Korban diketahui bernama Dominggus Maateka (37), petani asal Desa Seriholo, dengan kerugian sekitar Rp1 juta akibat satu pohon cengkih yang ditebang.
Situasi kemudian memanas setelah sekitar 50 warga melakukan pemalangan jalan menggunakan batang bambu. Warga menilai aksi penebangan tersebut sudah berulang dan belum ada kejelasan pelaku.
Kapolres Seram Bagian Barat, AKBP Andi Zulkifli, S.I.K., M.M, menegaskan pihaknya akan menangani kasus ini secara serius.
“Polres SBB akan menangani kasus ini secara serius dan profesional. Kami mengimbau masyarakat tetap menjaga situasi kamtibmas dan mempercayakan penanganan kepada kepolisian,” tegasnya.
Kasat Reskrim Polres SBB IPTU Boyke Nanulaita juga turun langsung ke lokasi untuk melakukan olah TKP sekaligus pendekatan kepada warga bersama pemerintah desa dan tokoh masyarakat.
Melalui proses mediasi, akhirnya warga bersedia membuka kembali pemalangan. Jalan Trans Seram pun kembali dapat dilalui sekitar pukul 15.20 WIT. “Pemalangan sudah dibuka dan arus lalu lintas kembali normal,” ujar aparat di lokasi.
Sebanyak 33 personel gabungan TNI-Polri kini masih disiagakan untuk menjaga situasi tetap kondusif. Sementara itu, kasus penebangan pohon cengkih tersebut masih dalam proses penyelidikan kepolisian.












