
Ruas jalan Tahalupu–Tihu di Kecamatan Huamual Belakang, Pulau Kelang, Maluku, rusak parah meski baru dikerjakan pada 2023. Proyek bernilai lebih dari Rp 7,3 miliar itu kini dipenuhi lubang, retakan, hingga longsoran di sejumlah titik.
Kondisi ini membuat akses warga terganggu. Jalan yang seharusnya menunjang mobilitas justru tak bisa difungsikan secara maksimal.
Sejumlah organisasi kemahasiswaan dan warga Pulau Kelang menilai proyek tersebut bermasalah. Mereka menduga pekerjaan tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan spesifikasi teknis.
“Anggaran Rp 7,3 miliar itu bukan kecil. Tapi hasilnya seperti ini. Harus ada yang bertanggung jawab,” kata perwakilan mahasiswa, Kamis (16/4).
Mereka bahkan mencium adanya indikasi kuat penyimpangan, termasuk dugaan pekerjaan yang tidak sesuai standar hingga kemungkinan fiktif.
Mahasiswa Pulau Kelang pun bersiap turun ke jalan. Mereka akan menggelar aksi demonstrasi dan mendesak Kejaksaan Tinggi Maluku untuk memeriksa pihak-pihak yang terlibat.
“Kami akan konsolidasikan mahasiswa dan mendesak Kejati Maluku segera panggil semua yang terlibat,” tegasnya.
Diketahui, proyek ini dikerjakan oleh CV Putra Mulia, kontraktor asal Desa Labuang, Namrole, Kabupaten Buru Selatan.
Sorotan juga mengarah ke Kepala Dinas Pekerjaan Umum SBB saat itu, Nasir Suruali, yang dinilai harus ikut bertanggung jawab atas proyek tersebut.
Kini publik menunggu langkah DPRD SBB dan aparat penegak hukum. Kasus ini akan dibongkar, atau justru menguap begitu saja?











