AMBON-Di tengah persoalan sampah yang kian kompleks di Kota Ambon, sosok Heymans Pattileuw memilih turun langsung ke lapangan. Bukan sekadar kampanye, ia bersama relawan, termasuk anak-anak sekolah minggu, rutin membersihkan sungai yang dipenuhi sampah plastik dan limbah rumah tangga.
Dalam beberapa kesempatan, Heymans kerap terlihat menyusuri Sungai Waitomu di pusat Kota Ambon. Dengan peralatan seadanya, ia bersama anak-anak Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil (SMTPI) Jemaat Bethania memungut sampah yang tersangkut di aliran sungai.
Aksi tersebut merupakan bagian dari program sosial bertajuk Citra Maluku, yang telah berjalan sebanyak delapan kali. Dalam pelaksanaannya, Heymans tidak hanya fokus pada satu lokasi, tetapi juga menjangkau sejumlah sungai lain di Ambon, seperti kawasan Galala, Poka, hingga Waiheru.
“Ini bukan sekadar kegiatan bersih-bersih biasa. Ini bentuk cinta kami untuk Kota Ambon. Kalau kita mencintai lingkungan, lingkungan juga akan menjaga kita,” kata Heymans kepada netmaluku.com Sabtu (11/4).
Menurut Heymans, persoalan sampah di Ambon bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga menyangkut kesadaran masyarakat. Ia menilai, masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai dan teluk Ambon.
“Kita masih lihat kebiasaan buang sampah di sungai, di teluk. Padahal ini yang kemudian jadi sumber masalah, mulai dari banjir sampai pencemaran lingkungan. Jadi kegiatan ini juga bagian dari edukasi,” ujarnya.
Dalam setiap kegiatan, Heymans turut melibatkan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemerintah Kota Ambon. Di antaranya Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, BPBD Kota Ambon, Dinas PUPR, hingga Dinas Sosial.
Ia mengatakan, kolaborasi tersebut penting agar upaya penanganan sampah bisa dilakukan secara lebih terintegrasi.
“Kami tidak bisa jalan sendiri. Harus ada kolaborasi dengan pemerintah dan semua pihak. Karena sampah ini masalah bersama,” katanya.
Lebih jauh, Heymans menuturkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan membangun kesadaran sejak dini, khususnya bagi anak-anak. Keterlibatan pelajar sekolah minggu, menurutnya, menjadi bagian penting dalam menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan.
“Kita ajak anak-anak supaya dari kecil mereka sudah tahu pentingnya menjaga lingkungan. Harapannya, mereka bisa jadi agen perubahan di keluarga dan di lingkungan mereka,” ucapnya.
Upaya yang dilakukan Heymans pun mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Ambon. Pada 2024, program tersebut memperoleh piagam penghargaan dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup.
Meski demikian, Heymans menegaskan bahwa penghargaan bukan menjadi tujuan utama. Baginya, yang terpenting adalah konsistensi dalam menjaga lingkungan.
“Penghargaan itu bonus. Yang utama adalah bagaimana kita bisa terus bergerak dan mengajak lebih banyak orang untuk peduli,” ujarnya.
Ia memastikan, kegiatan ini akan terus dilakukan setiap tahun, sekaligus menjadi ruang sosialisasi bagi masyarakat terkait pengelolaan sampah yang benar.
Heymans juga mengingatkan warga untuk mematuhi aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Kota Ambon terkait waktu pembuangan sampah, yakni pukul 22.00 hingga 05.00 WIT.
“Kami terus mengimbau masyarakat, jangan lagi buang sampah sembarangan, apalagi ke sungai dan teluk. Buanglah sampah pada tempatnya dan sesuai waktu yang sudah ditentukan,” katanya.
Menurutnya, perubahan besar dalam menjaga lingkungan hanya bisa terwujud jika dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama.
“Kalau bukan kita yang jaga Ambon, siapa lagi? Ini rumah kita bersama,” tutup Heymans.












