SERAM BAGIAN BARAT- Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) bersama TNI-Polri memperkuat langkah rekonsiliasi dalam penyelesaian konflik antara Desa Luhu dan Desa Iha, sekaligus menekan berbagai bentuk provokasi yang masih terjadi di lapangan.
Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan resmi yang digelar di ruang rapat lantai II Kantor Bupati di Desa Morekau, Kecamatan Seram Barat, Senin (30/3)
Pertemuan dipimpin Bupati Asri Arman dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah. Kapolres SBB AKBP Andi Zulkifly dalam arahannya menegaskan bahwa konflik yang terjadi berawal dari tindakan perorangan berupa penganiayaan pada 4 Februari 2026, yang kemudian berkembang menjadi aksi balasan.
“Peristiwa awal berkembang menjadi reaksi berantai, termasuk pembakaran pangkalan ojek di sekitar Gunung Tembaga pada hari yang sama, yang kemudian memicu aksi saling balas,” ujarnya.
Akibat rangkaian kejadian tersebut, sejumlah kendaraan bermotor dilaporkan terbakar. Aparat gabungan TNI, Polri, dan Brimob bersama pemerintah daerah telah melakukan langkah pengamanan serta mediasi, termasuk pertemuan-pertemuan parsial yang menghasilkan kesepakatan di tingkat desa.
Kapolres juga mengungkapkan bahwa menjelang Ramadan, kedua desa sempat menyelesaikan persoalan secara mandiri dan situasi berjalan kondusif. Namun, kondisi kembali terganggu akibat munculnya provokasi yang belum diketahui sumbernya.
“Masih terdapat bunyi-bunyian seperti ledakan atau tembakan yang meresahkan masyarakat. Selain itu, ada juga kasus penganiayaan ringan dan beberapa kejadian lain yang masih dalam penyelidikan,” katanya.
Terkait insiden terbakarnya dapur salah satu sekolah di perbatasan Desa Iha dan Luhu, pihak kepolisian menegaskan bahwa penyebabnya masih dalam proses penyelidikan.
“Belum dapat disimpulkan,” ujarnya.
Hingga saat ini, aparat TNI, Polri, dan Brimob masih disiagakan di kedua desa guna menjaga stabilitas keamanan. Aparat juga mengimbau masyarakat untuk menahan diri serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Pertemuan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat rekonsiliasi, menekan potensi konflik lanjutan, serta mendorong pemulihan situasi keamanan agar kembali normal dan kondusif di wilayah Seram Bagian Barat.












