Kenaikan harga bahan baku seperti plastik dan kacang kedelai mulai dirasakan di berbagai daerah dan berdampak pada sektor produksi, terutama industri tahu dan tempe. Namun kondisi berbeda terjadi di Kota Ambon, Maluku.
Para pengusaha tahu-tempe di kawasan Lorong Tahu Mardika memilih tetap bertahan. Hingga kini, aktivitas produksi berjalan normal dan harga jual ke pasar masih belum mengalami perubahan.
Biasanya, gejolak harga bahan baku disiasati dengan pengurangan ukuran produk. Namun kali ini, para pelaku usaha sepakat untuk tidak mengurangi ukuran maupun menaikkan harga jual, sambil menunggu perkembangan harga ke depan.
Abdul Kadir, salah satu pengusaha tahu-tempe, Kamis (16/4) mengatakan hingga saat ini belum ada kesepakatan untuk menaikkan harga.
“Kami di Ambon untuk sementara belum ada keputusan kenaikan harga, masih tetap. Walaupun ada kenaikan harga plastik dan kacang kedelai, teman-teman belum ada suara untuk menaikkan harga tahu-tempe,” ujarnya.
Ia menambahkan, ukuran tahu dan tempe juga masih dipertahankan seperti biasa.
“Ukuran tetap sama, tidak diperkecil. Tapi kalau kenaikannya terlalu tinggi, mungkin bisa ada perubahan,” lanjutnya.
Meski demikian, para pengusaha mengaku mulai khawatir jika lonjakan harga bahan baku terus berlanjut.
Kenaikan signifikan dinilai dapat berdampak langsung pada keberlangsungan usaha mereka, terutama karena biaya produksi yang semakin membengkak.
Para pelaku usaha berharap adanya intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga serta memastikan kelancaran distribusi bahan baku ke wilayah Maluku.
Mereka juga meminta agar bahan baku yang masuk ke daerah tidak dibebani biaya tinggi, sehingga usaha kecil seperti tahu-tempe tetap bisa bertahan di tengah tekanan harga.












