HUAMUAL-Situasi di Dusun Laala, Desa Lokki, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat sempat memanas pada Senin (6/4) siang. Ketegangan terjadi usai aksi penolakan aktivitas tambang nikel oleh masyarakat Negeri Luhu.
Sekitar pukul 14.00 WIT, puluhan warga Negeri Luhu yang dipimpin langsung Raja Abdul Gani Kaliky bersama perwakilan soa dan marga menggelar aksi damai di kawasan Gunung Pengoboran.
Mereka menyampaikan penolakan terhadap aktivitas PT Manusela Prima Mining (MPM) serta memasang spanduk sebagai bentuk sikap masyarakat adat.
Aksi awalnya berlangsung tertib. Namun, situasi mulai berubah tegang saat rombongan masyarakat Luhu hendak kembali ke pesisir Laala untuk bertolak ke kota Piru. Mereka sempat dihadang oleh sekelompok pemuda asal Desa Lokki.
Interaksi kedua kelompok itu memicu adu mulut dan saling lontar kata-kata keras. Ketegangan sempat meningkat dan berpotensi mengarah pada bentrokan fisik.
Aparat gabungan TNI dan Polri yang telah bersiaga di lokasi segera mengambil langkah pengamanan. Massa dari kedua pihak dipisahkan untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Tidak ada laporan korban dalam peristiwa tersebut. Setelah situasi terkendali, rombongan masyarakat Negeri Luhu dievakuasi menuju kapal dan meninggalkan lokasi.
Sementara itu, sejumlah pemuda dan warga Desa Lokki kemudian mendatangi lokasi tambang dan menurunkan spanduk yang sebelumnya dipasang oleh massa Negeri Luhu.
Menjelang sore hari, kondisi di Dusun Laala berangsur kondusif. Kedua kelompok membubarkan diri dan kembali ke wilayah masing-masing.
Peristiwa ini terjadi di tengah polemik aktivitas tambang nikel di wilayah Huamual, termasuk persoalan klaim tanah ulayat dan perbedaan sikap di tengah masyarakat.
Sebelumnya, masyarakat Negeri Luhu telah menyampaikan penolakan resmi kepada Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat, yang diterima oleh Wakil Bupati Selfinus Kainama.
Hingga kini, pihak PT Manusela Prima Mining belum memberikan keterangan terkait situasi di lapangan.













