Warga Kota Ambon kembali dibuat resah dengan fenomena sosial yang kian mencolok di ruang publik.
Seorang pria dewasa yang diduga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) terlihat berjalan tanpa busana di kawasan Jalan AM Sangadji, Sabtu (25/4) pagi.
Kejadian itu sontak menjadi perhatian warga dan pengguna jalan, bahkan videonya dengan cepat beredar luas di media sosial.
Dalam rekaman yang viral, pria tersebut tampak berjalan menyusuri emperan toko di salah satu pusat keramaian kota.
Sejumlah warga yang berada di lokasi terlihat kebingungan, sementara beberapa lainnya merekam kejadian tersebut.
“Beta kaget sekali, ini bukan kejadian biasa. Di tengah kota, pagi-pagi lagi,” ujar Gafur, salah satu warga Ambon yang menyaksikan langsung peristiwa itu.
Fenomena ini disebut bukan kali pertama terjadi. Belakangan, keberadaan ODGJ yang tidak terurus hingga gelandangan dan pengemis (gepeng) semakin mudah ditemui di berbagai titik Kota Ambon.
Mulai dari lampu merah, kawasan pertokoan, rumah kopi, hingga trotoar, mereka tampak beraktivitas tanpa penanganan yang jelas. Yang lebih memprihatinkan, sejumlah anak di bawah umur juga terlihat ikut mengemis.
Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang tertidur di trotoar usai seharian berada di jalanan. Warga menduga, sebagian anak tersebut menjadi korban eksploitasi oleh orang tua mereka sendiri.
“Katong bukan cuma kasihan, tapi juga khawatir. Jangan sampai ini ada unsur paksaan atau bahkan perdagangan anak,” kata Gafur.
Menurutnya, kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga berdampak pada citra Kota Ambon sebagai daerah yang dikenal ramah dan indah.
Ia menilai, perlu ada langkah serius dari pemerintah, khususnya dinas sosial, untuk menangani persoalan ini secara menyeluruh.
“Kalau dibiarkan terus, ini bisa jadi masalah besar. Harus ada penertiban, pembinaan, atau solusi jangka panjang. Jangan cuma tunggu viral baru bergerak,” tegasnya.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil tindakan konkret, baik melalui penanganan ODGJ, perlindungan anak, maupun program sosial yang menyasar kelompok rentan.
Tanpa intervensi yang tepat, mereka khawatir fenomena ini akan terus berulang dan semakin meluas.












