Di tengah gencarnya program peningkatan gizi hingga kualitas pendidikan, siswa SD Negeri Hulung Kasieh, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat, justru masih harus belajar di ruang kelas bocor.
Setiap hujan turun, aktivitas belajar berubah jadi perjuangan menghindari air yang merembes dari atap.
Kondisi bangunan sekolah tersebut kini memprihatinkan. Sejumlah ruang kelas mengalami kerusakan serius, mulai dari plafon rusak hingga atap seng yang bocor di berbagai titik.
Air hujan yang masuk ke dalam kelas membuat proses belajar mengajar tidak berjalan normal. Siswa terpaksa berpindah tempat, bahkan harus mencari sudut ruangan yang masih kering agar tetap bisa mengikuti pelajaran.
Kepala sekolah SDN Hulung Kasieh, Since Touwe, Sabtu (18/4) mengatakan kondisi ini bukan baru terjadi, melainkan sudah berlangsung cukup lama tanpa penanganan.
“Kalau hujan, anak-anak tidak bisa belajar dengan baik. Mereka harus menghindari air yang masuk ke dalam kelas,” ujarnya.
Yang jadi sorotan, pihak sekolah sebenarnya sudah mengajukan perbaikan melalui sistem Dapodik jalur resmi pendataan dan pengusulan kebutuhan sekolah. Namun hingga kini, belum ada realisasi.
Minimnya respons ini menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, di sisi lain, sejumlah sekolah yang dinilai masih dalam kondisi layak justru mendapatkan bantuan renovasi.
Situasi ini memunculkan kesan adanya ketimpangan dalam penyaluran bantuan pendidikan di daerah.
Dengan jumlah 63 siswa dan dukungan tenaga pengajar yang terdiri dari delapan guru PNS, satu guru PPPK, serta tiga guru honorer, SDN Hulung Kasieh sebenarnya memiliki potensi besar dalam mencetak generasi muda.
Namun tanpa fasilitas yang memadai, kualitas proses belajar tentu ikut terdampak.
Hingga kini, harapan masih disandarkan pada perhatian pemerintah daerah. Perbaikan bangunan sekolah bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan hal mendesak demi keselamatan dan masa depan siswa.












