Warga di Kecamatan Werinama dan Siwalalat, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, hingga kini masih mengalami kesulitan akses akibat belum tersedianya jembatan penghubung di Sungai Bobot.
Selama bertahun-tahun, warga mengandalkan rakit sebagai satu-satunya sarana penyeberangan.
Rakit tersebut digunakan untuk mengangkut orang hingga kendaraan roda dua, meski harus melintasi arus sungai yang deras dan cukup dalam.

Kondisi ini menjadi semakin sulit saat musim hujan. Ketika debit air meningkat dan banjir terjadi, akses antarwilayah bisa lumpuh total.
Saleh Tanamal, salah satu warga, mengatakan rakit menjadi transportasi andalan masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari, khususnya dari Werinama menuju Siwalalat.
“Penyebrangan andalan, jadi dari Werinama ke Siwalalat, ini menjadi angkutan favorit. Kali (Sungai) Bobot ini salah satu sungai terpanjang yang ada di Pulau Seram. Sampai saat ini belum ada jembatan penyeberangan, jadi rakit ini menjadi andalannya,” kata Saleh kepada netmaluku.com Jumat (17/4).
Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut, terutama dalam pembangunan infrastruktur jembatan.
“Semoga ada perhatian serius dari Kementerian Pekerjaan Umum lewat balai jalan dan sungai. Semoga jembatan Bobot juga menjadi skala prioritas dalam membangun Maluku secara totalitas,” ujarnya.
Warga berharap pembangunan jembatan di Sungai Bobot dapat segera direalisasikan agar mobilitas masyarakat menjadi lebih lancar, termasuk untuk distribusi sembako dan aktivitas ekonomi lainnya.
Selain itu, keberadaan jembatan dinilai penting untuk mengurangi risiko kecelakaan yang kerap mengancam warga, terutama saat cuaca ekstrem melanda kawasan tersebut.











