Kota Ambon semakin mantap melangkah menuju kota yang lebih hijau dan berkelanjutan dengan langkah terbarunya dalam pengelolaan sampah.
Dalam kunjungan resmi Bappenas dan LCDI pada Kamis (16/4), Pemkot Ambon bersama program Low Carbon Development Initiative (LCDI) mengungkapkan rencana besar untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis MRF (Material Recovery Facility) dan RDF (Refuse Derived Fuel) pada 2026.
Rencana ini tak hanya sebagai upaya untuk menanggulangi masalah sampah, tetapi juga sebagai bagian dari aksi konkret Pemerintah Kota Ambon dalam merespons tantangan lingkungan di tengah pertumbuhan kota yang pesat.

Saat ini, Ambon menghasilkan sekitar 256,41 ton sampah per hari, tetapi hanya 180,5 ton yang mampu dikelola dan dibuang ke TPA Toisapu. Sisanya, sejumlah sampah yang tak terangkut, berpotensi mencemari lingkungan.
MRF dan RDF: Menjawab Tantangan Sampah Ambon
Pemkot Ambon tengah menggagas dua fasilitas utama: MRF sebagai pusat pemilahan dan pengomposan sampah, serta RDF untuk mengolah residu sampah yang tidak dapat didaur ulang menjadi bahan bakar alternatif pengganti batubara.
Dengan rencana ini, Ambon berambisi untuk mengurangi tumpukan sampah yang ada, menargetkan pengurangan sampah hingga 70 persen, penanganan 30 persen, dan sampah terkelola secara maksimal 100 persen.
Program ini, yang sejalan dengan komitmen Pemerintah Kota Ambon terhadap pembangunan berkelanjutan, bertujuan untuk menekan volume sampah yang terbuang ke TPA, sekaligus memanfaatkan sampah sebagai sumber daya energi yang lebih ramah lingkungan.
LCDI: Solusi Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan
Dalam konteks ini, LCDI memiliki peran penting dalam mewujudkan pembangunan rendah karbon, yang berfokus pada pengurangan emisi gas rumah kaca dan efisiensi penggunaan sumber daya.
Kolaborasi ini tidak hanya memberikan solusi konkret terhadap pengelolaan sampah, tetapi juga menciptakan peluang bagi Ambon untuk menurunkan emisi yang dihasilkan dari cara pengelolaan sampah konvensional.
Mengakhiri Sistem Open Dumping
Salah satu tujuan utama dari proyek ini adalah mengakhiri sistem open dumping yang selama ini diterapkan di TPA Toisapu.
Dengan mengadopsi teknologi pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif sampah terhadap kesehatan dan lingkungan, serta memperpanjang umur TPA.
Transformasi IPST Ambon
Proyek ini juga mengubah fungsi kawasan IPST Kota Ambon, yang sebelumnya hanya digunakan sebagai tempat transit sampah, menjadi pusat pengolahan sampah terpadu.
Hal ini membuka peluang besar untuk pengelolaan sampah yang lebih efisien dan berkelanjutan, serta memperkenalkan konsep circular economy (ekonomi sirkular) yang memungkinkan pemanfaatan kembali material sampah secara maksimal.
Langkah Ambon Menuju Kota Berkelanjutan
Bagi Ambon, pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern ini tidak hanya soal mengurangi beban sampah, tapi juga sebagai langkah besar menuju kota yang lebih ramah lingkungan.
Selain itu, keberhasilan pembangunan MRF dan RDF akan membuka peluang baru bagi Ambon dalam pemanfaatan energi terbarukan, yang sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Ambon untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Dengan dukungan penuh dari LCDI dan bantuan hibah pembangunan, Ambon tengah menyiapkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Kota Ambon untuk mewujudkan visi “Ambon Manise yang Inklusif, Toleran, dan Berkelanjutan” dengan mengelola sampah secara lebih cerdas dan ramah lingkungan.











