Seorang pelajar perempuan berinisial SKP (14), siswi kelas IX SMP di Ambon, Maluku, mengalami luka berat setelah terlibat kecelakaan dengan truk militer di kawasan Batu Merah, Jumat (6/3) lalu sekitar pukul 18.30 WIT.
Hingga kini, korban masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit sejak hari kejadian.
Ibu korban, Mariska Muskita, mengatakan kecelakaan terjadi saat iring-iringan truk TNI yang mengangkut calon siswa (casis) melintas di jalan yang padat lalu lintas dan terdapat titik putar balik.
Menurut dia, sepeda motor ojek daring Maxim yang ditumpangi anaknya bersenggolan dengan truk, hingga korban terjatuh dan terlindas.
“Dari rekaman CCTV yang kami peroleh menunjukkan bahwa kendaraan truk itu yang menyenggol sepeda motor yang ditumpangi anak kami. Dan itu bukan dari arah belakang, melainkan depan truk. Dan setelah menyenggol dan melindas anak kami, truk tersebut tidak berhenti. Sopir truk justru tetap melanjutkan perjalanan bersama rombongan,” kata Mariska di Ambon, Rabu (15/4).
Usai kejadian, korban sempat dilarikan ke RS Bhayangkara sebelum dirujuk ke RS Siloam dalam kondisi kritis.
Mariska mengungkapkan, di tengah perawatan, anaknya sempat menyampaikan apa yang dialaminya.
“Ma, oto truk tentara yang muat CASIS giling (lindas) Kia,” ujar Mariska menirukan ucapan anaknya.
Pada 7 Maret 2026, korban menjalani operasi darurat dengan kondisi hemoglobin sekitar 4.
“Dengan diagnosa, pendarahan hebat pada organ hati, cedera serius pada panggul dan pangkal paha, dan pembengkakan pada otak,” jelasnya.
Sehari kemudian, korban dirujuk ke RSUP Leimena karena keterbatasan tenaga medis spesialis.
Selama perawatan, korban telah menjalani berbagai tindakan medis, termasuk transfusi lebih dari 40 kantong darah dan CT scan kepala akibat sempat mengalami kejang.
“Anak saya dilindas, tapi puji Tuhan anak saya selamat. Itu mujizat Tuhan,” ujarnya.
Korban juga menjalani operasi lanjutan pada organ hati pada 12 Maret 2026 serta operasi ortopedi pada 30 Maret 2026.
Meski demikian, Mariska mengaku kecewa terhadap pihak Kodam XV/Pattimura.
Ia menyebut sebelumnya ada pernyataan bahwa biaya pengobatan korban akan ditanggung hingga sembuh total, namun belum terealisasi sepenuhnya.
“Memang sejumlah bantuan telah mereka berikan, seperti santunan dari unsur pimpinan TNI dan panitia casis, itu sekitar Rp 25 juta, dukungan logistik serta donor darah dari satuan TNI, serta bantuan dari pihak lain. Namun pernyataan pihak TNI bahwa akan bertanggung jawab sampai pulih dan sembuh itu di mana?” ujarnya.
“Anak saya bukan binatang, lalu datang beri santunan setelah itu tidak ada lagi. Kami sudah sebulan lebih di rumah sakit. Hanya Danrem saja yang datang menjenguk, Pangdam tidak,” lanjutnya.
Mariska mengatakan kondisi anaknya masih membutuhkan penanganan jangka panjang, termasuk rehabilitasi medis dan pendampingan psikologis.
“Kami berharap ada tanggung jawab yang berkelanjutan, tidak hanya pengobatan saat ini, tetapi juga jaminan masa depan anak kami,” katanya.
Ia juga mengungkapkan, di tengah kondisi yang masih lemah, anaknya tetap mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) dari ruang perawatan.
“Dia mengerjakan ujian matematika dan bahasa Indonesia sambil menahan rasa sakit, bahkan sempat menangis, namun tetap berusaha menyelesaikan ujian,” tuturnya.
Kapendam Bantah Tabrak Lari.
Sementara itu, pihak Kodam XV/Pattimura membantah adanya tabrak lari dalam insiden tersebut.
Kapendam XV/Pattimura Kolonel Inf. Heri Krisdianto mengatakan narasi yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya benar.
“Narasi tabrak lari yang beredar di media sosial adalah tidak benar,” kata Heri dalam keterangan tertulis.
Ia menjelaskan, kejadian bermula saat konvoi truk TNI AD yang mengangkut casis bergerak dari RS dr. J.A. Latumenten menuju Rindam XV/Pattimura dengan pengawalan Polisi Militer.
Menurut dia, sepeda motor ojek daring diduga mencoba masuk ke jalur konvoi dan kemudian bersenggolan dengan bagian belakang truk terakhir, sehingga pengendara dan penumpangnya terjatuh.
“Pengemudi truk awalnya tidak menyadari kejadian tersebut. Namun setelah diberitahu pengendara lain, pengawal sempat menghentikan konvoi di Jembatan Merah Putih untuk menunggu konfirmasi,” ujarnya.
“Namun karena pengendara ojol tidak kunjung datang, rombongan kendaraan akhirnya melanjutkan perjalanan,” tambahnya.
Heri menyebut pihaknya telah mengambil langkah penanganan dan memastikan korban mendapatkan perawatan.
“Kami sangat prihatin dan mendoakan agar korban segera pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala,” katanya.
Saat ini, pihak Kodam masih melakukan pemeriksaan terhadap pengemudi truk maupun pengemudi ojek daring untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan.












