Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi Pasar Mardika yang dinilai masih jauh dari kata layak.
Masalah klasik seperti sampah, ketidaktertiban, hingga lemahnya pengelolaan disebut masih menjadi keluhan utama masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri groundbreaking proyek Water Front City Ambon di kawasan Batu Merah, pada Rabu (8/4) lalu.
Hendrik menegaskan, pembenahan Pasar Mardika tidak bisa lagi ditunda. Ia bahkan secara khusus menunjuk Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Maluku, Jais Ely, untuk segera melakukan penataan menyeluruh.
“Beta harap Kadis baru bisa benahi Pasar Mardika. Ini jadi perhatian serius,” tegasnya.
Menurut Hendrik, pasar tradisional harus mampu bersaing secara sehat, terutama dengan kawasan perdagangan lain di sekitarnya.
Kunci utamanya ada pada tata kelola yang baik mulai dari kebersihan, kenyamanan, hingga keteraturan.
Ia juga menyoroti buruknya pengelolaan sampah, terlebih karena lokasi pasar yang berdekatan dengan pesisir.
“Jangan buang sampah di laut. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujarnya.
Hendrik meminta Dinas Indag segera merancang sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan terintegrasi.
Ia ingin Pasar Mardika tidak lagi identik dengan kesemrawutan, tetapi berubah menjadi ruang ekonomi yang bersih dan layak.
Baginya, pasar bukan sekadar tempat transaksi, melainkan wajah pelayanan publik yang mencerminkan kinerja pemerintah daerah.
Pembenahan ini, kata dia, menjadi bagian dari upaya mendorong penguatan ekonomi rakyat sekaligus meningkatkan daya saing pasar tradisional di Maluku.
“Kalau pasar tertib dan bersih, orang pasti datang,” tandasnya.














