KILMURY- Di tengah gencarnya berbagai program peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan siswa, realitas berbeda masih ditemukan di pelosok negeri.
Di Kecamatan Kilmury, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, sebuah sekolah dasar berdiri dalam kondisi yang memprihatinkan.
Sekolah tersebut adalah SD Negeri 8 Kilmury, kelas filial dengan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) 60101677.
Bangunannya jauh dari standar kelayakan sebagai tempat belajar. Dinding sekolah terbuat dari gaba-gaba atau dahan pohon sagu yang dianyam, sementara atapnya menggunakan rumbia dari daun sagu.
Kondisi ini menjadi sorotan setelah sejumlah foto beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir.
Dalam salah satu foto, tampak seorang guru perempuan berdiri di depan papan nama sekolah. Ia terlihat tegar, seolah mewakili semangat bertahan di tengah segala keterbatasan.
Di foto lain, suasana belajar di dalam kelas terlihat begitu sederhana. Para siswa tidak duduk di kursi dan meja seperti pada umumnya. Mereka menggunakan papan kayu panjang sebagai tempat duduk.
Ruang kelas pun tampak tanpa plafon, dengan dinding terbuka yang membuat siswa harus berhadapan langsung dengan panas dan hujan.
Situasi ini memunculkan ironi di tengah gencarnya wacana program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi perhatian nasional. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi dan konsentrasi belajar siswa.
Namun, di SD Negeri 8 Kilmury, persoalan mendasar justru belum tersentuh. Jangankan menikmati makanan bergizi di sekolah, untuk merasakan kenyamanan dalam proses belajar pun para siswa masih jauh dari harapan.
Kondisi ini pun memantik reaksi warganet. Banyak yang menyampaikan keprihatinan dan mempertanyakan keseriusan pemerataan pembangunan pendidikan.
Mereka menilai, program-program besar seharusnya berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk infrastruktur sekolah yang layak.
Kesenjangan ini menjadi pengingat bahwa tantangan pendidikan di Indonesia tidak hanya soal kebijakan di tingkat pusat, tetapi juga implementasi di daerah terpencil.
Perhatian serius dari pemerintah daerah Seram Bagian Timur, pemerintah Provinsi Maluku, hingga pemerintah pusat dinilai sangat mendesak.
Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh program, tetapi juga oleh lingkungan belajar yang aman dan layak. Tanpa itu, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa akan terus menghadapi hambatan nyata di lapangan.












