
SERAM BAGIAN BARAT-Warga Dusun Tatinang, Desa Waesala, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, masih bergantung pada transportasi laut untuk beraktivitas sehari-hari. Hingga kini, akses jalan darat menuju wilayah tersebut belum tersedia.
Untuk menuju ibu kota kabupaten di Piru, masyarakat harus menggunakan perahu motor atau bodi “pentura”. Hampir setiap keluarga di dusun itu memiliki perahu sebagai alat transportasi utama. Sementara warga yang tidak memiliki, biasanya menumpang ke tetangga saat hendak bepergian, termasuk menuju Dusun Hanunu.
“Kalau mau ke Piru, kita pakai bodi. Sudah biasa begitu,” kata Ardi, warga Tatinang kepada netmaluku.com baru baru ini.
Kondisi ini mendorong warga berinisiatif membuka akses jalan darat secara swadaya. Sejak 2021, masyarakat mulai mengerjakan jalur penghubung dari Dusun Hanunu ke Tatinang dengan peralatan sederhana seperti pacul dan linggis.
Tak hanya itu, warga juga sempat menyewa alat berat untuk mempercepat pekerjaan. Setiap kepala keluarga menyumbang sekitar Rp500 ribu. Total dana yang terkumpul dan telah digunakan mencapai sekitar Rp200 juta.
Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil. Pembangunan jalan terhenti karena keterbatasan biaya. Saat ini, jalan yang telah dibuka hampir selesai dan hanya menyisakan sekitar 2 kilometer.
Berbagai upaya telah dilakukan warga, termasuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Namun hingga kini, belum ada realisasi bantuan untuk melanjutkan pembangunan jalan tersebut.
“Kami sudah berusaha semampu kami. Tinggal sedikit lagi, tapi belum ada bantuan,” ujar Ardi.
Warga berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian agar akses jalan darat segera terwujud. Mereka menilai keberadaan jalan akan mempermudah mobilitas serta mendukung aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor perikanan.














